Sabtu, 19 Februari 2011

Adverbs of time digunakan untuk menunjukkan kapan (when), seberapa lama (how long) dan seberapa sering (how often) suatu peristiwa terjadi.
when: today, yesterday, later, now, last year
how long: all day, not long, for a while, since last year
how often: sometimes, frequently, never, often, yearly
Adverbia when biasanya diletakkan di akhir kalimat, contoh:
- Mark went to the John’s house yesterday.
- I’m going to tidy my room tomorrow.
Tetapi, adverbia when juga dapat diletakkan di posisi yang lain dalam kalimat untuk memberikan intensitas atau penekanan makna yang berbeda, contohnya:
- Later Mark ate some porridge. (penekanan pada waktu diutamakan)
- Mark later ate some porridge. (bersifat formal seperti halnya sebuah laporan)
- Mark ate some porridge later. (penempatan yang umum digunakan, tidak ada penekanan makna tertentu).
Adverbia how long umumnya diletakkan di akhir kalimat, contoh:
- He stayed in the John’s house all day.
- My father lived in Australia for a year.
Perhatikan, for selalu diikuti oleh ungkapan yang menunjukkan jangka waktu (duration) tertentu, misalnya: for three days, for a week, for several years, for two centuries.
Sedangkan since selalu diikuti oleh ungkapan yang menunjukkan waktu tertentu, misalnya: since Monday, since 1997, since the last war.
Adverbia how often digunakan untuk menyatakan seberapa sering suatu peristiwa dilakukan. Adverbia ini diletakkan sebelum verba utama (main verbs) atau setelah kata kerja bantu (auxiliary verbs) seperti be, have, may, must, etc. Contoh:
- I often eat vegetarian food. (sebelum verba utama)
- He never drinks milk. (sebelum verba utama)
- You must always fasten your seat belt. (setelah kata kerja bantu must)
Adverbia how often lainnya mengungkapkan waktu yang lebih terperinci untuk menggambarkan suatu kejadian dan biasanya diletakkan di akhir kalimat, contoh:
- This magazine is published monthly.
- He visits his mother once a week.
Beberapa adverbia how often diletakkan di akhir kalimat untuk memberikan makna yang lebih kuat.
Bandingkan dua contoh berikut:
- She regularly visits France.
- She visits France regularly.
Kata keterangan atau adverbia yang dapat diletakkan pada dua posisi tersebut adalah: frequently, generally, normally, occasionally, often, regularly, sometimes, usually.



Other adverbs of time include:-
Time Example
Saturday, Sunday ... I am going to the shops on Monday.
Dian lost in BTM on Tuesday.
Today I've been to the shops today.
I have assignment today.
Yesterday I went yesterday.
We go to Bali yesterday.
Next week/month/year I am going next week.
I get my money next month.
Last week/month/year I went last year.
I bought my novel last week.
Finally I finally went.
Finally we do our home work.
Eventually I eventually went to the shops.
Already I've already been to the shops.
Soon I'm going to the shops soon.
The movie is coming soon.
Just I'm just going to the shops.
I am just eating in restaurant.

Still I'm still at the shops.
I am still at home.

Jumat, 18 Februari 2011

1 Mesin faks
Mengirimkan data atau berkas-berkas penting ke kantor lain.


2Mesin absensi
Fungsi mesin absensi untuk mengetahui tingkat kehadiran seseorang dalam suatu perusahaan. Untuk mempermudah proses tersebut anda membutuhkan mesin absen sehingga bisa mengetahui jam berapa seseorang datang ke kantor, istirahat, lembur dan jam pulang mereka sehari hari.


3 Mesin pemghancur kertas
Mesin penghancur kertas merupakan mesin yang berfungsi untuk mempercepat proses penghancuran kertas, termasuk data data penting perusahaan yang sudah tidak dipakai lagi.



4 Meja kantor
fungsinya sebagai sarana utama dalam mengerjakan pekerjaan kantor.


5 Lemari besi
Untuk menyimpan berkas-berkas penting dalam perusahaan.

Selasa, 15 Februari 2011

TELEPHONE
Caller: Hello, can I speak to Annie Wan ?
Operator: Yes, you can speak to me.
Caller : No, I want to speak to Annie Wan!
Operator: Yes I understand you want to speak to anyone. You can speak to me. Who is this?
Caller : I’m Sam Wan. And I need to talk to Annie Wan! It’s urgent.
Operator: I know you are someone and you want to talk to anyone! But what’s this urgent matter about?
Caller: Well… just tell my sister Annie Wan that our brother Noe Wan was involved in an accident. Noe Wan got injured and now Noe Wan is being sent to the hospital. Right now, Avery Wan is on his way to the hospital.
Operator : Look, if no one was injured and no one was sent to the hospital, then the accident isn’t an urgent matter! You may find this hilarious but I don’t have time for this!
Caller : You are so rude! Who are you?
Operator: I’m Saw Ree.
Caller: Yes! You should be sorry. Now give me your name!!
Operator: That’s what I said. I’m Saw Ree ..
Caller: Oh ……God!!! !

Minggu, 30 Januari 2011

Roti Panggang Keju

Bahan-Bahan:

    * 5 lembar roti tawar, potong menjadi 2 berbentuk segitiga
    * 2 sendok makan tepung terigu
    * 200 ml susu
    * 1/8 sendok the garam
    * 50 gram keju cheddar, diparut
    * 1 sendok teh peterseli cincang

Cara Membuat:

Sabtu, 15 Januari 2011

Pengertian Ilmu dan Menuntut Ilmu
# Pengertian Ilmu
“Secara bahasa pengertian ilmu adalah lawan kata bodoh/Jahil, sedang secara istilah berarti sesuatu yang dengannya akan tersingkaplah segala hakikat yang secara sempurna. Secara istilah Syar’i pengertian ilmu yaitu, ilmu yang sesuai dengan amal, baik amalan hati, lisan maupun anggota badan dan sesuai dengan petunjuk Rasulullah Saw.”[1]
Ibnu Munir berkata : “Ilmu adalah syarat benarnya perkataan dan perbuatan, keduanya tidak akan bernilai kecuali dengan ilmu, maka ilmu harus ada sebelum perkataan dan perbuatan, karena ilmu merupakan pembenar niat, sedangkan amal tidak akan di terima kecuali dengan niat yang benar.”[2]
Dalam pengertian lain “Ilmu itu modal, tak punya ilmu keuntungan apa yang bisa didapat, ilmu adalah kunci untuk membuka pintu kebaikan kesuksesan, kunci untuk menjawab pertanyaan dan masalah di dunia  . . .” [3]
Berdasarkan beberapa definisi tentang pengertian ilmu di atas dapat disimpulkan bahwa, ilmu merupakan sesuatu yang penting bagi kehidupan manusia karena dengan ilmu semua keperluan dan kebutuhan manusia bisa terpenuhi secara lebih cepat dan lebih mudah baik secara lisan (perkataan), maupun berupa perbuatan (anggota badan), tanpa ilmu kesuksesan tak pernah ketemu karena ilmu merupakan bagian terpenting dalam kehidupan seperti kebutuhan manusia akan oksigen untuk bernapas.
# Pengertian Menuntut Ilmu
“Menuntut ilmu adalah suatu usaha yang dilakukan oleh seseorang untuk merubah tingkah laku dan perilaku kearah yang lebih baik,karena pada dasarnya ilmu menunjukkan jalan menuju kebenaran dan meninggalkan kebodohan.”[4]
Menuntut ilmu merupakan ibadah sebagaiman sabda Nabi Muhammad Saw. طَلَبُ الْعِلْمَ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ وَمُسْلِمَةٍ
Artinya :
“Menuntut Ilmu diwajibkan atas orang islam laki-laki dan perempuan”
Mu’adz bin Jabbal berkata : “Tuntutlah ilmu, karena mempelajari ilmu karena mengharapkan wajah Allah itu mencerminkan rasa Khasyyah, mencarinya adalah ibadah, mengkajinya adalah tasbih, menuntutnya adalah Jihad, mengajarnya untuk keluarga adalah Taqarrub.”[5]
Dengan demikian perintah menuntut ilmu tidak di bedakan antara laki-laki dan perempuan. Hal yang paling di harapkan dari menuntut ilmu ialah terjadinya perubahan pada diri individu ke arah yang lebih baik yaitu perubahan tingkah laku, sikap dan perubahan aspek lain yang ada pada setiap individu.
Waktu untuk menuntut ilmu tidak terbatas pada usia masuk sekolah dasar atau Madrasah Ibidaiyah sampai keperguruan tinggi, tetapi masa untuk menuntut ilmu ialah sejak manusia di lahirkan dan berakhir pada saat manusia meninggal dunia, orang barat menyebtnya “Long Life Education” pendidikan seumur hidup. Orang yang menuntut ilmu akan diberikan pahala yang sangat besar. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh muslim, Abu Daud, Tirmidzi, dan lain-lain dari shabat Abu Hurairah, Rasulullah Saw. Bersabda :
مَنْ سَلَكَ طَرِيْقًايَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْمًا سَهَلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيْقًا اِلَى اّلجَنَّةِ
Artinya :
“Barangsiapa berjalan di suatu tempat guna menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke Syurga.”[6]
Pentingnya Menuntut Ilmu
Ilmu amatlah luas, jika di pelajari tidak akan pernah selesai, selama bumi masih berputar, selama hayat di kandung badan selama itu pula manusia memerlukan ilmu pengetahuan islam tidak hanya cukup pada perintah menuntut ilmu, tetapi menghendaki agar seseorang itu terus menerus melakukan belajar, karena manusia hidup di dunia ini perlu senantiasa menyesuaikan dengan alam dan perkembangan zaman. Jika manusia berhenti belajar sementara zaman terus berkembang maka manusia akan tertinggal oleh zaman sehingga tidak dapat hidup layak sesuai dengan tuntutan zaman, terutama pada zaman sekarang ini, zaman yang di sebut dengan era globalisasi, orang di tuntut untuk memiliki bekal yang cukup banyak, berupa ilmu pengetahuan. Bahkan kalau perlu menuntut ilmu di lakukan tidak hanya di tempat yang dekat tetapi kalau perlu harus mengembara untuk menuntut ilmu di tempat yang jauh. Seperti sabda Rasulullah Saw. :
أُطْلُبُوْالْعِلْمَ وَلَوْبِاالصِّيْنِ
“Tuntutlah ilmu walaupun di negeri Cina.”[7]
Disebutkan negara Cina karena pada zaman Nabi Muhammad pada permulaan abad VII Masehi negeri yang terjauh dan terkenal di Arab adalah negeri Cina tampak asal barang-barang mewah seperti kain sutera, porselin atau keramik.
“Makin tinggi seseorang menuntut ilmu, makin tinggi pula nilai ilmu yang ia miliki, makin tinggi ilmu seseorang makin banyak kesempatan bagi orang tersebut untuk dapat memenuhi kebutuhan hidupnya.”[8]
Peranan ilmu pengetahuan dalam kehidupan seseorang sangat besar, dengan ilmu pengetahuan, derajat manusia akan berbeda antara yang satu dengan yang lainnya. Seperti firman Allah dalam Surat Al-Mujaadilah ayat ; 11
( Æìsùötƒ ª!$# tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä öNä3ZÏB tûïÏ%©!$#ur (#qè?ré& zOù=Ïèø9$# ;M»y_u‘yŠ 4 ª!$#ur $yJÎ/ tbqè=yJ÷ès? ׎Î7yz
“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.[9]
Segala jenis pekerjaan yang dilakukan selalu memerlukan ilmu pengetahuan, dalam kehidupan sehari-hari misalnya, dapat dilihat bahwa pada umumnya orang yang memiliki ilmu pengetahuan yang tinggi, taraf kehidupannya lebih baik dari pada orang yang tidak memiliki ilmu pengetahuan atau orang ilmu pengetahuannya rendah, baik ilmu agama maupun ilmu umum biasanya tidak mengalami kesulitan dalam memenuhi atau menyediakan kebutuhan hidup sehari-hari, misalnya untuk makan, pakaian, obat-obatan dan tempat tinggal.
Satu hal yang lebih penting lagi, bahwa orang yang berilmu memiliki pendirian yang teguh, tidak mudah terombang-ambing tidak mudah tergoda oleh bujukan syetan. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw.
فَقِيْـهُ وَاحِدٌاشَدُّعَلَى الشَّيْطَانِ مِنْ اَلْفِ عَابِدٍ
Artinya :
“Seseorang yang alim lebih sulit di goda oleh syetan dari pada seribu orang yang ahli ibadah (tetapi tidak berilmu),” (H.R. Turmudzi).[10]
Allah menyuruh manusia untuk menuntut ilmu tidak hanya ilmu agama, tetapi juga ilmu umum. Dimana kedua ilmu ini selain memiliki peranan penting dalam kehidupan manusia itu sendiri, juga memiliki peranan penting bagi kehidupan masyarakat serta bagi bangsa dan negara.
Dapat di lihat dalam kehidupan masyarakat terjadinya gangguan ketertiban di akibatkan karena beberapa faktor, salah satunya ialah kurangnya ilmu pengetahuan yang di miliki oleh anggota masyarakat itu, seperti :
  1. Kurangnya pengetahuan agama dalam suatau anggota masyarakat mengakibatkan kurang mengerti / paham tentang batas-batas halal dan haram sehingga cenderung berbuat seenaknya, tidak tahu malu, dan tidak tahu sopan santun.
  2. Kurangnya pengetahuan umum karena tidak bersekolah atau putus sekolah, sehingga tidak terampil menciptakan pekerjaan sendiri, sulit mencari pekerjaan akibatnya sulit mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Jika keadaannya demikian ditambah lagi dengan kurangnya pengetahuan tentang agama maka orang mudah terjerumus kedalam perbuatan yang dilarang oleh agama seperti berjudi, mencuri, merampok, bahkan membunuh.
Islam sangat memperhatikan kebahagiaan dunia dan akhirat sebagaimana firman Allah Swt, yang artinya, “Peliharalah diri dan keluargamu dariapi neraka.” Keluarga adalah masyarakat terkecil, jika semua keluarga di dalam masyarakat itu baik, maka baik pulalah kehidupan dalam masyarakat dan alangkah indahnya sesuatu masyarakat yang anggota masyarakatnya memiliki keterpaduan antara ilmu agama dan ilmu umum.
Tidak dapat di sangkal lagi bahwa ilmu pengetahuan sangat besar peranannya bagi bangsa dan negara, sejarah telah membuktikan bahwa negara yang maju adalah negara yang maju ilmu pengetahuannya. Dahulu, sekitar tahun 1945 – 1966 tingkat kesejahteraan rakyat Indonesia masih rendah, hal itu disebabkan karena pada waktu itu taraf pendidikan rakyat indonesia masih rendah. Namun sekarang pada umumnya sudah baik itu semua berkat usaha pemerintah dalam meningkatkan taraf penguasaan ilmu pengetahuan melalui wajib belajar bagi setiap warga negara ialah 9 tahun (tingkat SLTP).
Pentingnya ilmu pengetahuan dalam kehidupan manusia karena “tanpa ilmu sedikit sekali yang dapat diperbuat manusia dalam hidupnya….”[11] Suatu contoh : untuk memperoleh pekerjaan saja perusahaan atau instansi, baik negeri maupun swasta selalu mempertanyakan Ijazah, orang yang memiliki ijazah tinggi akan memperoleh jabatan dan ditempatkan di tempat yang sesuai dengan ijazahnya, sebaliknya orang yang memiliki ijazah yang rendah di tempatkan pada posisi yang rendah sesuai dengan ijazahnya.
Pentingnya Mengamalkan Ilmu
Ilmu yang telah didapat dari usaha menuntut ilmu adalah untuk di amalkan karena ilmu itu terjaga dan tidak mudah hilang apabila telah diamalkan, terkhusus pada diri sendiri, apakah ilmu yang telah didapat di amalkan pada kebaikan diri sendiri karena sebelum mengamalkan ilmu pada orang lain setidaknya telah diamalkan pada diri sendiri. Setinggi apapun seseorang menuntut ilmu jika tidak di amalkan maka dengan sendirinya ilmu tersebut akan mudah hilang, ilmu akan bertambah jika di amalkan sebaliknya ilmu akan menghilang jika tidak di amalkan.
Diantara salaf ada yang berkata-kata : “usaha kami untuk menjaga ilmu yang kami miliki bersandar pada amalan kami, sebagian lagi mengatakan : ilmu itu menuntut untuk di amalkan, jika tuntutan ilmu itu telah terpenuhi maka ia akan menetap dan jika tidak di penuhi maka ia akan pergi menghilang.”[12]
Sekecik apapun ilmu yang diajarkan kepada orang lain selama itu bersifat kebaikan niscaya Allah akan senantiasa meridhainya. Ibnu Abbas berkata : “Sesungguhnya orang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain, maka setiap hewan melata akan menohonkan ampunan baginya, termasuk pula ikan paus di lautan, (Mukhtasar Minhajul Qashidin ; 11).”[13] Orang yang mengajarkan ilmu akan mendapatkan balasan pahala seperti pahala orang yang mengamalkan ilmu tersebut, dan yang lebih utamanya lagi ialah pahala seorang alim akan terus bermanfaat dan tidak akan terputus meskipun telah wafat.
Dengan mengaplikasikan ilmu yang telah didapat dan menyeru kepadaNya serta berlaku sabar dalam menjalaninya agr ilmu yang telah di peroleh memiliki buah yang baik dan dapat berkembang, dengan demikian banyak orang lain yang dapat menfaat dari ilmu tersebut.
Hendaklah diketahui bahwa hanya dengan ilmu derajat seseorang bisa terangkat, kecuali jika ilmu tersebut telah diamalkan. Dalam menafsirkan ayat ; “Dan kalau kami menghendaki, sesungguhnya kami tinggikan dengan ayat-ayat itu” (QS. Al-A’raaf ; 176).”[14] Ayat ini menunjukkan dengan jelas bahwa hanya dengan ilmu, derajat seseorang tidak bisa terangkat, karena Allah telah mengkhabarkan dalam ayat tersebut bahwa dia telah mendatangkan kepada sekelompok orang ayat-ayat tersebut, dan ia tidak bisa mengangkat derajat mereka. Sesungguhnya derajat orang yang berilmu hanyalah terangkat sesuai dengan kadar pengemalannya dan seseorang yang telah mengamalkan ilmu yang telah di dapatnya niscaya Allah Swt akan mengajarkan kepadanya ilmu yang belum di kehendakinya.

[1] Abu Fatiah Al-Adnani, op.cit. hal. 5-6
[2] Ibid. hal. 14
[3] Solikin Abu Izudin. Loc.cit.
[4]Ibid.
[5]Abu Fatiah Al-Adnani, loc.cit
[6] Drs. Masan Al-Fat.,et.al., Aqidak Akhlak (Semarang, 1994),hal. 142-143
[7] Ibid.
[8]Ibid. hal.144
[9] Tafsir
[10]Drs. Masan Al-Fat op.cit, hal. 146
[11] Solikin Abu Izzudin, loc.cit,.
[12] Abu Fatiah Al-Adnani, op.cit, hal. 18
[13] Ibid, hal. 10
[14] Ibid, hal.10
Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!